Inaya Berangkat ke Sekolah

Seperti hari-hari sebelumnya, Inaya bangun sebelum matahari terbit. Setelah selesai mandi dan mengambil air untuk bersuci Inaya menjalankan kewajibannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan penuh keikhlasan hati, suatu hal yang selalu ditekankan kepada muslimah seperti dirinya di saat berangkat pengajian ke surau sebelah rumahnya. Setelah selesai beribadah, Inaya mengangkat kedua tangannya sambil memanjatkan permohonan agar dirinya, keluarganya, tetangganya, dan semua orang yang sudah dikenalnya maupun yang belum dapat merasakan kebahagiaan yang hakiki tanpa mengorbankan terlalu banyak waktu maupun biaya kepada tuhan. Sesudah mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya secara lembut dan hati-hati, Inaya kemudian beranjak untuk melepaskan mukena yang dikenakannya. Dengan perlahan-lahan mukena putih miliknya itu dilipatnya dan diletakkannya diatas sajadah sehingga memudahkannya saat nanti akan menggunakannya lagi.

Kemudian Inaya mengganti bajunya dengan seragam sekolahnya. Setelah itu Inaya menggunakan make up pemberian mamanya secara hati-hati. Takut terlalu boros, Inaya menghentikan pemakaiannya tepat sebelum mukanya terlihat cantik. Setelah itu make up kesayannya tersebut dirapikannya dan kemudian dimasukkannya kedalam tas sekolahnya karena nanti siang sehabis beribadah lagi Inaya akan memerlukannya untuk merias wajahnya lagi. Setelah beberapa saat berbenah, Inaya berjalan ke dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri karena mamanya tidak menyukai kebiasaan sarapan sehingga Inaya tidak membuatkannya. Pagi itu Inaya sarapan dengan semangkuk mie instant tanpa telur karena ayam betina peliharaannya sedang tidak bertelur, mungkin bulan depan dia baru mau bertelur lagi. Selesai sarapan, Inaya meminum segelas air tanpa teh, kopi, maupun gula karena itu akan membuatnya terlalu sering pergi ke toilet yang mana akan memancing perhatian guru dan juga teman-temannya. Ini akan membuat dirinya merasa malu bukan kepalang apalagi kalau sampai jadi bahan gunjingan dengan topik "Inaya si tukang kencing" atau "tuh anak ngapain sih sering banget ke toilet?" diantara teman-teman sekelasnya. 

Selesai sarapan, Inaya membereskan piring dan gelasnya yang kotor, kemudian menghampiri mamanya untuk memohon ijin pergi ke sekolah. Mamanya mengiyakannya. Selesai mencium tangan mamanya, Inaya berangkat ke sekolah dengan hati yang bahagia.

This content was posted on at Dummy Text by Bagus Humawan