Mimpi itu Bunga Tidur, Inaya

Inaya memandang jam dinding di kamar tidurnya. Sadar kalau malam telah larut, direbahkanlah tubuh kurusnya keatas tempat tidur pemberian orang tuanya. Sejenak dia memikirkan perbuatan apa saja yang memiliki nilai ibadah yang telah dilakukannya sepanjang hari ini. Dengan melakukan hal ini dirinya yakin bahwa dia akan bisa mengurangi jumlah kesalahan yang telah dilakukannya serta memikirkan strategi kedepannya agar bisa memiliki lebih banyak lagi nilai ibadah yang terkumpulkan untuk kehidupan akhiratnya nanti. Hal ini merupakan rutinitas yang selalu dilakukan oleh Inaya setiap hendak mengunjungi alam mimpi di setiap malam yang telah dilaluinya. Matanya terasa semakin berat ketika dirinya mulai sadar kalau mimpi mulai mendekatinya...

Meskipun Inaya mengetahui kalau mimpi baru saja mendatanginya dan mulai menguasainya, dia sama sekali tidak menolaknya bahkan dirinya malahan mempersiapkan dirinya agar bisa melaluinya dengan baik dan sopan. Sementara dunia mimpi mulai menguasainya, Inaya berdoa kepada tuhannya agar keselamatan senantiasa dilimpahkan kepada mamanya yang sudah kelihatan mulai menua. Tepat setelah selesai berdoa, Inaya sudah tidak memiliki keinginan apa-apa lagi selain dari menyelami dunia mimpi yang telah dengan sengaja menyeretnya dengan kelembutan yang tak tertolakkan oleh siapapun untuk segera masuk kedalamnya. 

Ketika itu Inaya diturunkan oleh kekuatan mimpi yang membiusnya tepat di tengah-tengah sebuah padang rumput hijau dalam suasana yang cerah dan hangat oleh sinar matahari pagi yang seakan-akan sengaja untuk menyinari dirinya yang berpakaian kurang pantas karena dia tidak mengenakan hijab kesukaannya. Dia memohon maaf kepada tuhan atas keteledorannya ini, namun dirinya juga beralasan bahwa disetiap malam saat berangkat tidur di kamarnya dirinya memang selalu melepaskan hijab karena hal ini memang tidak dilarang oleh agama yang dianutnya selama ini.

Setelah terdiam beberapa saat lamanya, Inaya merasakan bahwa alasannya untuk tidak mengenakan hijab dalam mimpinya ini sudah tepat, dia mulai menenangkan dirinya sendiri dan kemudian mulai berjalan-jalan menelusuri padang rumput tersebut sambil merasakan kebahagiaan yang tak terkira karena pemandangan yang sangat indah di sekelilingnya seakan-akan dengan sengaja memperlihatkan keelokannya yang tiada duanya kepada Inaya. Demikian hal ini berlangsung hingga pagi menjelang tepat di keesokan harinya.

This content was posted on at Dummy Text by Bagus Humawan