Percayalah Tuhan Akan Selalu Bersama Kita, Vina

Vina merupakan seorang staff di sebuah kantor di Jakarta. Di kantornya, Vina dikenal pacaran dengan atasannya yang bernama Imran. Imran merupakan seorang project manager. Mereka berdua pacaran baru seminggu, pun itu karena dijodoh-jodohin oleh teman sekantor mereka.

Pada suatu hari, mereka sepakat untuk pergi ke taman depan kantor mereka berdua saat jam istirahat. Mereka memiliki rencana untuk membicarakan sesuatu yang menurut mereka berdua penting.

Di taman tersebut, Imran membeli 2 buah es krim double coklat magnum sehingga mereka mengobrol sambil masing-masing memegang dan memakan es krim mereka masing-masing.

Tidak banyak waktu yang mereka habiskan karena mereka menghargai pengorbanan kantor untuk memberikan mereka berdua pekerjaan. Pun, mereka telah mencapai kata sepakat untuk menabung bersama, di tabungan mereka masing-masing, karena Vina tidak mau menyimpan uang milik Imran karena mereka berdua belum menikah. 

Tabungan mereka nantinya akan mereka berdua gunakan untuk melangsungkan pesta pernikahan mereka 1 tahun lagi. Sementara sisanya akan mereka berdua gunakan untuk uang muka angsuran sebuah rumah yang mereka bedua incar di wilayah Jakarta Utara.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berjalan, hingga akhirnya terkumpulah cukup uang untuk melangsungkan pernikahan mereka berdua. Biaya sewa gedung dan sekedar pesta makan pun sudah ada.

Meskipun demikian, mereka belum sempat memberitahukan kedua orang tua mereka masing-masing kalau mereka berdua telah siap untuk menikah. Untuk itu, mereka berdua membuat kesepakatan baru untuk memberitahu orang tua Vina lebih dulu, baru kemudian orang tua Imran.

Mereka berdua berangkat ke rumah Vina pada hari Sabtu siang sekitar jam 12 siang. Mereka pergi menggunakan mobil Toyota Fortuner milik Imran. Mereka melalui perjalanan mereka tanpa banyak bicara, berbeda dengan hari-hari sebelumnya...

Di sebuah belokan jalan yang agak sepi, melintas seekor ular besar di depan mobil mereka. Hampir saja ular tersebut terlindas di saat yang bersamaan dengan berteriaknya Vina. Mereka berdua merasakan sesuatu yang aneh namun mereka berdua tidak tahu perasaan apakah itu.

Setelah beberapa kilometer berlalu, terasa jalannya mobil yang dikendarai oleh Imran terasa berat dan serasa mau belok ke kanan terus. Imran kemudian menghentikan mobilnya. Segera diperiksanya ban kanan depan mobilnya. Ternyata benar, ban tersebut kempes.

Secara mengherankan, dalam beberapa menit seseorang yang naik sepeda motor menghampiri mereka dan menawarkan jasa tambal bannya. Imran mengiyakannya karena menurut pendapatnya memang inilah solusi yang paling tepat untuk mengatasi masalah ban bocor yang menimpa mobil miliknya.

Pengendara sepeda motor tersebut di atas kemudian menelpon seseorang yang menrupakan karyawan bengkelnya agar datang ke tempat di mana mobil milik Imran diparkir sambil membawa peralatan tambal ban yang diperlukan.

Sambil menunggu kedatangan karyawannya, si pengendara sepeda motor tersebut menceritakan bahwa beberapa saat yang lalu telah terjadi kecelakaan kecil dimana sebuah mobil telah menabrak sebuah sepeda motor di perempatan jalan yang telah Imran lalui tadi. Imran mengucapkan syukur kepada tuhan bahwa bukan dirinya yang mengalami kecelakaan tersebut diatas. Namun demikian, Imran juga merasa sedih atas terjadinya kecelakaan yang diceritakan oleh pengendara sepeda motor tersebut di atas.

Karyawan bengkel anak buah si pengendara sepeda motor tersebut akhirnya datang juga menggunakan mobil pickup dengan peralatan tambal ban yang lengkap. Setelah beberapa saat bekerja, akhirnya selesai juga proses tambal ban yang dilakukannya.

Imran mengucapkan terima kasih kepada si pengendara sepeda motor tersebut diatas. Setelah memberikan sejumlah uang biaya tambal bannya, Imran dan Vina meninggalkan si pengendara sepeda motor itu dengan karyawannya.

Setelah cukup lama berkendara, akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah Vina dengan selamat.

This content was posted on at Cerpen by Bagus Humawan