Setitik Darah si Kumbang untuk NKRI

Si Kumbang memegang patung batu giok berwarna hitam itu dengan tangan kanannya. Dia mengagumi ukiran nya yang menurutnya cukup bagus. Tidak, itu salah. Batu giok hitam berbentuk gajah itu tentunya tidak diukir melainkan dituang ke dalam cetakan atau apalah itu namanya si Kumbang juga tidak begitu paham. Meskipun begitu, itu tidak mengurangi kekagumannya terhadap barang tersebut di atas. Sejenak kemudian dibawanya patung gajah terbuat dari giok hitam itu ke dalam bilik nya. Diletakkannya patung gajah itu di atas meja kayu lapuk miliknya yang terdapat di sudut kamar berlantai tanah miliknya. Sesuai dengan rencana yang telah diaturnya sore ini si Kumbang hendak main ke rumah pacarnya untuk pamitan. Si Kumbang rencananya besok pagi akan pergi ke Medan untuk mengirimkan kabar penting untuk seorang perwira yang setia kepada NKRI. Si Kumbang sedikit khawatir juga akan keselamatannya maka dari itu dirinya kali ini menyempatkan dirinya main dulu ke rumah pacarnya untuk pamitan sebelum menjalankan tugas pentingnya sebagai seorang "scouter" yang mengirimkan kabar ke Medan...

Tanpa banyak cakap seusai meminum teh pahit si Kumbang memohon ijin kepada emaknya. Seusai mencium tangan emaknya si Kumbang berlalu dari hadapan emaknya sambil membawa tas yang terbuat dari karung goni dengan isi yang agak berat juga meskipun tidak lebih berat dari 2kg tapi tetap saja terasa di pundaknya. Sesuai dengan perintah komandannya si Kumbang tidak berani membuka tas tersebut karena yang berhak membukanya hanyalah perwira yang akan menjadi tujuan akhir dari tugasnya kali ini. 

Dengan penuh semangat si Kumbang berlari-lari menyusuri jalan setapak yang cukup sulit untuk dilalui manusia kala itu. Kebetulan memang pangkat si Kumbang rendah jadi dia tidak diberikan sepeda untuk menjalankan tugas. Sebagai seorang pemuda yang tahu diri dan mengerti apa itu tugas seorang scouter, si Kumbang senantiasa mengolah kegesitan tubuhnya sehingga si Kumbang mampu berlari seharian tanpa banyak beristirahat bahkan dirinya tidak makan dan lupa minum ketika sedang menjalankan perintah komandannya untuk mengirimkan kabar ke Medan maupun ke kota-kota lainnya.

Sembari berlari menyusuri jalan setapak di pinggir sebuah bukit, sekilas mata si Kumbang melihat semak di depannya bergoyang. Sambil berbisik kecil si Kumbang menyiapkan dirinya. Memang benarlah adanya sedetik kemudian dari balik semak di depan melompatlah seorang pemuda yang memegang sebilah pisau yang tanpa ba bi bu segera saja menusukkannya ke arah perut si Kumbang. Beruntunglah si Kumbang banyak berlari dalam menjalankan tugasnya bahkan sampai seharian tiada berhenti kecuali malam tiba jadi tusukan tersebut tidak lah berarti karena tidak menembus kulit perutnya. Sambil menggeram marah karena merasa sakit juga, si Kumbang menghentakkan telapak tangan kanannya ke dada si penyerang yang telah dikenalnya sebagai pemuda tetangga desa sebelah yang telah diduga bekerja untuk pemerintah Belanda. 

Terasa empuk tangan si Kumbang menyentuh dada pemuda tersebut hingga terjengkang dan setelah membuang pisaunya lantas berlari terhuyung ke arah jurang dan kemudian menggulingkan diri ke bawah dengan cepat karena takut di balas oleh si Kumbang yang setelah menarik nafas panjang meneruskan langkahnya ke Medan sesuai dengan tugas yang sedang diembannya.

Setelah matahari tepat di atas ubun-ubun, jalan yang dilalui oleh si Kumbang menjadi cukup sulit karena mesti melalui perbukitan tandus dengan tanah dan bebatuan yang mudah longsor. Di sebuah belokan yang cukup sulit untuk dilalui dengan berlari, 3 orang pemuda dengan pisau di tangan telah menunggunya. Si Kumbang meraba pinggangnya untuk mencabut bayonetnya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih bayonet dimaksud tidak ada di tempatnya. Sambil mengeluh si Kumbang dengan segera membalikkan badannya dan berlari sekencang mungkin meninggalkan ke 3 pemuda tersebut diatas. Si Kumbang pada dasarnya bukanlah seorang yang pengecut namun demikianlah apa yang ditanamkan ke benak seorang scouter seperti dirinya, selalu mengutamakan tugasnya di atas perasannya sendiri.

Si Kumbang bukanlah seorang anak kemaren sore di bidang lari cepat seperti ini. Namun demikian jalan berbatu dan keras serta mudah longsor di lereng bukit seperti ini bukanlah sebuah jalan yang mudah untuk dilalui termasuk oleh seorang yang profesional seperti dirinya ini. Dalam pikirannya sudah timbul perkiraan bahwa sebentar lagi dirinya akan tersusul oleh 3 orang lelaki yang dilihatnya sekilas tadi sangat menginginkan kematiannya. Tiba-tiba terasa oleh si Kumbang sebuah benda keras menghantam bagian belakang kepalanya. Terasa olehnya pusing yang seakan memecahkan kepalanya. Dirinya terhuyung ke depan hampir tidak ingat apa-apa. Saat mukanya hampir menyentuh tanah, kedua tangannya menutupi mukanya agar tidak membentur tanah berbatu di depannya. 

Karena takut matanya diambil untuk dijadikan mainan oleh pemuda-pemuda yang menurut si Kumbang merupakan musuh NKRI, yang diketahuinya dari perbuatan mereka yang sengaja menghalangi tugasnya untuk mengantarkan kabar kepada perwira yang setia kepada NKRI di Medan dan juga karena takut isi tas karung goni yang dibawanya jatuh ke tangan mereka, si Kumbang mengambil keputusan untuk menggulingkan dirinya ke jurang di sebelah kanannya yang cukup dalam serta berakhir ke sungai kering yang penuh dengan batu-batu yang keras...

TAMAT

This content was posted on at Cerpen by Bagus Humawan